Halaman

Ketua Fraksi Demokrat DPR Dianggap Narsis

[Politisi Sukabumi] : Akhirnya motif batas 4-5% Parliamentary Treshold (PT) mulai terkuak..
JAKARTA (JPPN)- Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M Romahurmuziy, menuding Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR, Mohammad Jafar Hafsah, tengah mengalami megalomania. Alasan Romahurmuziy, hal itu tak terlepas dari efek kegagalan menjalani proses pendewasaan politik.
"Pernyataan Ketua Fraksi Partai Demokrat (F-PD) DPR RI Mohammad Jafar Hafsah menunjukkan sebagian elite Partai Demokrat mengidap "megalomania" akibat kegagalan menjalani diri dalam pendewasaan politik," tegas Romahurmuziy yang akrab disapa Romi di Jakarta, Senin (10/1).
Romi menjelaskan prihal megalomania dengan menggunakan referensi Sigmund Freud. "Psikolog ternama itu berpendapat bahwa akar dari megalomania adalah narsisme atau perasaan mencintai diri sendiri secara berlebihan. Penderitanya memiliki suatu kecenderungan untuk menilai diri sendirinya secara berlebihan atau menghargai diri melampaui batas. Itu kata Freud," imbuh Romi.
Sebelumnya, Mohammad Jafar Hafsah menyatakan bahwa angka parkiamentary threshold (PT) akan dinaikkan dari 2,5 persen menjadi 4 persen. Jafar Hasyah juga menegaskan bahwa partainya siap menampung partai-partai koalisi yang tidak lolos ambang batas parlemen itu.
Namun menurut Romi, PPP tak mau diakuisi oleh partai manapun, termasuk Partai Demokrat. Romi juga menegaskan, PPP tidak pernah bernegosiasi terkait akuisisi ini. "PPP juga menegaskan tidak ada satupun elemen PPP baik dewan pimpinan partai maupun badan otonom yang membicarakan kemungkinan tersebut," tegas Romi.
Dijelaskannya, pernyataan Jafar Hafsyah sangat tidak etis. Pernyataan itu akan membuka motif sesungguhnya di balik usulan kenaikan PT atau penambahan jumlah dapil. "Ternyata usulan tersebut semata-mata untuk mendapatkan kursi secara gratisan. Ini yang saya sebut watak oportunis dalam politik, memanipulasi peraturan untuk kepentingan diri dan kelompoknya," ujar Romy.
Romi pun membandingkan saat PDIP mendapatkan suara 33 persen pada Pemilu 1999, atau 1,5 kali lipat dari perolehan Partai Demokrat pada Pemilu 2009 namun tidak berusaha mengganjal parpol lain dengan PT. Menurut Romi, pikiran-pikiran oportunis seperti ini tidak pernah ada bagi partai-partai yang memiliki tradisi panjang sebagaimana halnya PPP. Sebab, kemenangan hanya bisa diraih dengan kerja keras, bukan karena mengakali.
"Karena itu, PPP mengajak seluruh parpol bersaing secara sehat dan mengembalikan keluhuran dan etika berpolitik. Jika tidak dihentikan, keinginan Partai Demokrat ini bisa menjadi trigger merapatnya bangunan komunikasi intensif di antara partai-partai tengah," pungkas Romi. (fas/jpnn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar